Text Size

Kemana Parlok Menggiring Ekonomi Aceh?

Tuntutan menyejahterakan rakyat merupakan salah satu persoalan semesta yang paling purba. Kemapanan ekonomi, sebagai wajah lain dari kesejahteraan, seringkali dijadikan isu strategis dalam mencapai tujuan tertentu. Bahkan, hukum juga diproduk dari tarik ulur kepentingan politik dan kepentingan ekonomi. Karenanya, menyorot permasalahan yang memilin sektor ekonomi lalu menyusun strategi pemecahan yang tepat, adalah bagian terpenting dari usaha menyejahterakan rakyat. Dan tentu saja, muara akhirnya menuju kesejahteraan bangsa.

PAAS Beranjak Dari Anggaran

Kapal boleh baru tapi nahkoda partai politik lokal ini bukanlah sosok asing di ring perpolitikan. Ghazali Abbas Adan, sang inisiator sekaligus ketua umum, merupakan mantan anggota MPR RI. Ghazali juga pernah bertarung dalam perebutan kursi gubernur pada Pilkada Aceh 2006 lalu. Sayangnya, keberhasilan belum berpihak.

Meski begitu, Ghazali tak patah arang. Dia kembali menghiasi dunia percaturan politik Aceh di bawah bendera PAAS, Partai Aceh Aman Seujahtera. PAAS adalah partai politik lokal yang dideklarasikan di Banda Aceh pada 7 Juni 2007. Lalu, bagaimana gambaran PAAS tentang ekonomi Aceh? Dalam platform yang diterima AER, terdapat sebelas poin yang menjadi program ekonomi partai berlambang peta Aceh ini.

PDA Sodorkan Ekonomi Berbasis Syariat

Dulu, ulama boleh dianggap alat politik kalangan elit. Namun kini, ulama Aceh telah bangkit dan secara resmi menyuarakan jeritan rakyat melalui kendaraan politik. Lihat saja, kalangan ulama Aceh yang tergabung dalam Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA) sudah bersepakat dan memberikan rekomendasi pembentukan perahu berlayar politik dengan mendirikan Partai Daulat Aceh (PDA) pada 28 Februari 2008 silam.

Dengan mengusung perilaku politik berbasis ekonomi syariat, PDA hendak memberikan warna dalam menata Aceh dengan konsep syariat. ”Itu sesuai dengan misi PDA. Kami fokus pada konsep syariat Islam, terutama pada ekonomi islam yang non riba,” ujar Tgk Ali Imran, ketua harian PDA.

Ekonomi Sensitif Ala SIRA

Sepintas, akronim partai politik lokal ini mengingatkan kita pada organisasi mahasiswa penyulut sumbu referendum Aceh 1999. Kala itu, ratusan ribu massa berhasil dimobilisasi dan menyemut di Banda Aceh. Sejarah menyebut, kedatangan massa itu khusus untuk mendengar suara mahasiswa Aceh yang berhajat menutup cerita konflik. Dan suara itu diyakini bergema dari corong organisasi Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA).

Tujuh tahun setelahnya, konflik berakhir. Bab referendum Aceh tenggelam bersama penekenan nota damai. Tapi SIRA tidak ikut raib. Pada tanggal 10 Desember 2007, mengisi iklim perpolitikan lokal, berdiri sebuah parlok yang diberi nama Suara Independen Rakyat Aceh (SIRA).

Agro Industri Primadona PRA

Partai politik ini lahir dari sejarah perjuangan demokratik tahun 1998. Dimulai dengan kongres Front Perlawanan Demokratik Rakyat Aceh (FPDRA) kedua di Aceh Besar tahun 2006, yang sekaligus membidani lahirnya Komite Persiapan-Partai Rakyat Aceh (KP-PRA). Pada 16 Maret 2006, meski palu di DPR belum mengetok sah UUPA, pencetusan PRA sebagai partai politik lokal pertama di Aceh tetap berlangsung.

Terkait kondisi perekonomian Aceh, Sekjend PRA, Thamren Ananda menamsilkan pemerintah Aceh bak orang yang baru sembuh dari sakit. Sehingga timbul keinginan mencicipi semua jenis makanan dan minuman. “Ketika semua sudah ada di depan mata dan mencicipi, bukannya habis, tapi malah menjadi tidak enak dan mual karena kebanyakan sehingga semuanya menjadi mubazir,” kata dia.

Features:

Grassroot

Pagi itu, Hasbi terlihat sedikit rileks. Ahad, dia meliburkan diri dari rutinitas membuat tas Aceh. Usaha yang digelutinya empat tahun terakhir itu juga meliburkan 15 karyawan setiap Ahad. Disudut Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Satu, Aceh...

Media Headlines

Video
You need to a flashplayer enabled browser to view this YouTube videoMore Videos...

Latest News

Meminimalkan Krisis Keuangan Global

Irfa Ampri
• Kepala Pusat Kebijakan Kerja Sama Internasional, Badan Kebijakan Fiskal, Departemen Keuangan

Krisis keuangan di Amerika Serikat, seperti diduga, telah menjalar menjadi krisis keuangan global; dan pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan turun menjadi 4 persen pada 2008. Dampak yang timbul cukup signifikan terhadap negara-negara maju, seperti Amerika Serikat dan Eropa, dengan penurunan drastis pertumbuhan GDP menjadi 0,75 persen dan 1,5 persen, atau koreksi lebih dari 50 persen dari proyeksi pertumbuhan semula. Demikian pula krisis global berdampak tidak langsung terhadap negara-negara berkembang dan kawasan lainnya, termasuk kawasan Asia Timur, atau ASEAN+3 (ASEAN, Cina, Jepang, dan Korea Selatan) dengan penurunan pertumbuhan GDP menjadi sekitar 5-6 persen, atau koreksi sekitar 20 persen dari proyeksi sebelumnya.

Dari berbagai analisis dan hasil pertemuan internasional dan multilateral (G-7 dan Eurozone), dapat disimpulkan setidaknya terdapat tiga penyebab krisis, yaitu pertama, kegagalan regulator dan sistem pengawasan di negara-negara maju; kedua, kegagalan manajemen risiko pada institusi/lembaga keuangan swasta; dan ketiga, kegagalan mekanisme disiplin pasar. Berbagai solusi penyelesaian krisis telah mengemuka, seperti dari G-7 (kumpulan tujuh negara ekonomi yang paling berpengaruh), yang merekomendasikan di antaranya perlunya tindakan bersama dan selaras dari seluruh negara di dunia dalam mengatasi krisis, dan perlunya peran proaktif pemerintah suatu negara dalam menyediakan dana likuiditas untuk melindungi lembaga-lembaga keuangan dan perbankan dari kebangkrutan agar arus kredit berjalan lancar.
Rekomendasi senada telah menjadi kesepakatan bersama para kepala pemerintahan 47 negara dari dua benua (Eropa dan Asia) yang baru saja menyelesaikan KTT Asia-Eropa (Asem) ketujuh di Cina. Semangat yang sama--dan inisiatif Indonesia--mendorong terealisasinya pertemuan para kepala pemerintahan ASEAN+3 yang dilaksanakan sehari sesudah KTT Asem. Para kepala pemerintahan menyepakati perlunya pembentukan dana kawasan sebagai bantalan krisis melalui percepatan realisasi pembentukan Chiang Mai Initiative Multilateralisation, atau disingkat CMIM, mulai tahun 2009. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman atas tujuan dan mekanisme CMIM yang hingga saat ini masih dalam tahapan pembahasan di kalangan ASEAN+3.
Multilateralisasi CMIM merupakan upaya bersama negara-negara ASEAN+3 untuk membentuk dana bersama (pooling of fund) kawasan yang ditujukan guna membantu negara anggota yang mengalami krisis keuangan (likuiditas). Upaya tersebut dilatarbelakangi oleh pengalaman krisis keuangan di Asia satu dekade yang lalu--ketika lamanya proses perolehan dana likuiditas dari IMF menyebabkan krisis semakin berdampak luas dengan biaya ekonomi yang besar terhadap negara-negara yang mengalami krisis. Tanggapan yang cepat berupa penyediaan dana yang dibutuhkan oleh negara anggota akan mempercepat penyelesaian krisis.
CMIM diharapkan dapat menjadi pengganti mekanisme bilateral swapantarnegara yang telah ada di lingkungan ASEAN+3, dan dana bersama disepakati pada tahap awal berjumlah US$ 80 miliar. Sekitar 80 persen dari kebutuhan dana berasal dari Cina, Jepang, dan Korea Selatan, sementara sisanya ditanggung bersama oleh ASEAN sesuai dengan besaran kapasitas ekonomi masing-masing negara ASEAN. Ditambah dengan dana dari lembaga keuangan multilateral, dana bantalan krisis diperkirakan akan menjadi sekitar US$ 400 miliar. Jumlah dana bersama di atas sangat dimungkinkan untuk ditingkatkan sesuai dengan kebutuhan likuiditas kawasan di masa mendatang.
Bantuan pinjaman likuiditas yang disediakan secara cepat dengan persyaratan mudah merupakan tujuan utama CMIM. Dengan tersedianya dana segera yang dibutuhkan sekitar satu minggu setelah krisis yang menimpa suatu negara anggota, dan kemudian diikuti oleh bantuan likuiditas dari lembaga multilateral lainnya, diharapkan negara dimaksud dapat pulih kembali perekonomiannya dan mampu memenuhi kewajiban transaksi devisanya dalam waktu cepat dengan biaya dampak ekonomi yang rendah. Pulihnya ekonomi akan membangkitkan kembali kepercayaan para investor asing dan stakeholder terkait untuk melakukan atau melanjutkan investasi dan transaksi perdagangan. Dan diharapkan, setelah periode tertentu (misalnya enam bulan), negara dimaksud dapat mengembalikan pinjamannya kepada pengelola CMIM secara mengangsur atau membayar penuh.
Penyetoran dan penarikan pinjaman likuiditas CMIM yang berbunga rendah tersebut memerlukan sejumlah persyaratan. Antara lain pelaksanaan surveillance secara periodik, implementasi kebijakan fiskal dan moneter yang sehat, dan pembentukan kerangka supervisi untuk meyakinkan sistem keuangan yang sehat. Perlu pula dibentuk suatu mekanisme pengambilan keputusan secara cepat oleh negara-negara anggota yang pada tingkat strategis diputuskan dengan konsensus, sedangkan pada tataran operasional ditentukan dengan suara mayoritas. Demikian pula, perihal instrumen penyetoran dana, hendaknya dimungkinkan bank sentral masing-masing negara anggota pada saat tidak krisis menginvestasikan dana pada opsi investasi yang tidak mengikat.
Untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya krisis, diperlukan pula adanya penguatan fungsi deteksi dini (surveillance) yang profesional dan independen atas indikator-indikator ekonomi dunia, kawasan, dan masing-masing negara anggota. Peranan surveillance diperlukan pula ketika lembaga multilateral terlibat dalam penyediaan dana likuiditas dan pengamatan kinerja ekonomi atas negara peminjam. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa keberadaan CMIM bermanfaat dan diperlukan dalam menjaga stabilitas keuangan kawasan dan meminimalkan dampak krisis melalui penyediaan tambahan pembiayaan likuiditas. Efektivitas CMIM sangat ditentukan oleh komitmen dan disiplin para negara anggota dalam memenuhi mekanisme yang disepakati bersama. *

 
Move
-

Nanggroe

Top Article

Sejumlah lembaga masyarakat sipil menilai dana hibah untuk instansi vertikal yang dialokasikan APBD di Aceh tidak sesuai dengan kebutuhan masing-masing daerah.

“Dana hibah...

Sebanyak 2.820 keuchik (kepala desa) dan sekretaris desa didaftarkan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan Pidie, Provinsi Aceh masuk dalam Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)...

Pada Bulan Mei 2009, harga bernagai komoditas di Kota Banda Aceh secara umum menunjukkan kenaikan. Hal ini ditandai dengan naiknya Indek Harga Konsumen (IHK) dari 113,46 pada bulan lalu...

Move
-

Daerah

Top Article

Pemerintah Kabupaten Aceh Barat mengundang investor untuk membangun pabrik pengolahan karet alam yang bahan bakunya tersedia cukup besar di daerah itu.

“Kami telah menyediakan...

Pelanggan PLN Ranting Janarata Bener Meriah untuk sebulan terakhir hanya menunggak rekening Rp123 juta, jumlah tunggakan itu sangat wajar karena mayoritas tunggakan rekening listrik...

Menurut rencana pembangunan mega proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air, (PLTA) Peusangan 1 dan 2 di Aceh Tengah akan dimulai pada pertengahan tahun 2010 mendatang. Proyek yang memiliki...

Move
-

Nasional

Top Article

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengakui adanya perbaikan yang dilakukan pemerintah terhadap masalah Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) tahun 2008.

“Kita mengakui, ada...

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) akan memeriksa dana dekonsentrasi mulai Juli 2009 menyusul belum tertibnya pengelolaan dana dan aset-aset yang muncul dari dana perimbangan itu.

“...

Jakarta (AER)- Ratusan pengusaha industri minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di Indonesia masih tetap bertahan hingga saat ini, meskipun usahanya terkena imbas krisis ekonomi...

Move
-

Internasional

Top Article

Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengumumkan rencana reformasi sistem keuangan secara besar-besaran untuk memperbaiki sistem yang sudah ada sebelumnya.

Transformasi...

Korea Selatan (AER) - Sekjen Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sepakat Senin (1/6) mendukung ekspansi ekonomi dan hubungan diplomatik antara Korea dengan 10 negara anggota...

Korea Selatan (AER) - Sekjen Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) sepakat Senin (1/6) mendukung ekspansi ekonomi dan hubungan diplomatik antara Korea dengan 10 negara anggota...

More Headlines

Kolom Pakar

Oleh : Aliamin

Reformasi1998 tidak hanya membawa perubahan besar dalam lingkup politik Indonesia tetapi juga melanda keuangan, baik keuangan negara maupun daerah. Selama ini sistem keuangan negara menganut asas sentralistik. Hanya ada satu...

Wawancara

Politik, dalam wajah apa pun, tidak luput mempengaruhi sektor selainnya. Bahkan di bidang perekonomian, campur tangan politik tetap ada. Sebut saja soal proses penetapan anggaran belanja daerah yang ditengarai banyak pihak sarat akan kepentingan...

Opini

Oleh : Farid Wajidi, ST

Bagi masyarakat Indonesia, tahun ini sangatlah istimewa karena dua perhelatan akbar dilaksanakan secara beruntun. Pertama, Pemilu Legeslatif untuk memilih anggota legeslatif yang akan mengisi kursi di DPR, DPD dan...

KURS VALAS

DD/TT
2-Jul-2009 / 08:05 WIB
Mata Uang
Jual
Beli
 USD
10300.00  10050.00 
 SGD
7135.05  6939.05 
 HKD
1330.00  1295.70 
 CHF
9584.15  9325.15 
 GBP
16997.35  16524.35 
 AUD
8335.65  8093.65 
 JPY
107.16  103.66 
 SEK
1365.00  1320.10 
 DKK
1970.10  1900.80 
 CAD
8975.40  8717.40 
 EUR
14560.90  14177.90 
 SAR
2756.35  2670.35 
 NZD
6608.90  6386.90 

HARGA EMAS

Last Update: 2 Juli 2009

Emas Murni Rp 310.000/gram

(tanpa ongkos pembuatan)
Sumber: Toko Mas H. Harun 
        Geuchik Leumik
         Banda Aceh

Login Form